“Implementasi Strategi Pembelajaran Inkuiri dalam Kesiapan Siswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0”


Hasil gambar untuk gambar industri 4.0


Perubahan di dunia kini memasuki era Revolusi Industri 4.0, dengan gaya hidup manusia berbasis teknologi digital. Mempersiapkan lulusan yang berkualitas dan mampu bersaing secara global serta penting menguasai perkembangan teknologi untuk pembelajaran, terutama untuk masa depan pendidikan di Indonesia. Menurut Maulana IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang berkaitan erat dengan teknologi yang meliputi aspek produk, proses, sikap ilmiah, dan aplikasi.
IPA sebagai tubuh pengetahuan yang terdiri dari konsep, prinsip, hukum, dam teori harus mampu memberikan kontribusi dalam pembentukan generasi bangsa yang kreatif untuk Revolusi Industri 4.0. Dengan demikian maka arah pengembangan dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran IPA seharusnya dapat membantu peserta didik menjadi generasi unggul, inovatif, serta dapat bersaing dalam segala bidang. Perkembangan teknologi pada saat Revolusi Industri 4.0 yang di rasakan oleh generasi millenial pada saat sekarang memang tidak dapat dihindari tetapi harus di hadapi dengan kesiapan dan kemampuan diri untuk menerapkan hal-hal baru bahkan menciptakan hal-hal baru dengan munculnya Revolusi Industri 4.0.
Mohamad Nasir, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), membuat penilaian awal atas kesiapan negara untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Meskipun masih lebih rendah dari Singapura, pada tingkat Asia Tenggara posisi Indonesia sepenuhnya dihitung. Berkenaan dengan Indeks Daya Saing Global dari Forum Ekonomi Dunia 2017-2018, Indonesia berada di posisi ke-36, yang sebelumnya pada posisi ke-41 dari 137 negara.“Namun jika dibandingkan dengan negara Malaysia, Singapura, dan Thailand, Indonesiamasih tertinggal. Tahun ini dalam global competitiveness index, Thailand pada posisi ke-32, Malaysia posisi ke-23, dan Singapura pada posisi ke-tiga. Adapun penyebab Indonesia masih tertinggal dari negara lain dikarenakan kurangnya kualitas, pendidikan tinggi dan pelatihan, pengetahuan dan teknologi,sertainovasidan bisnis. Hal inilah yang harus diperbaiki agar daya saing Indonesia tidak kalah dari negara lain,” seperti yang dikatakan Nasir pada konferensi pers, Jakarta, Senin (29/1). Nasir mengatakan bahwa tujuan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi saat ini masih sesuai dengan era revolusi industri 4.0, sehingga perubahannya dilakukan hanya pada program berbasis layanan dengan pola penggunaan teknologi digital (online). Namun, kebijakan pada bidang pendidikan disesuaikan dengan keadaan di era revolusi Industri 4.0 Mohamad Nasir, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), membuat penilaian awal atas kesiapan negara untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Meskipun masih lebih rendah dari Singapura, pada tingkat Asia Tenggara posisi Indonesia sepenuhnya dihitung. Berkenaan dengan Indeks Daya Saing Global dari Forum Ekonomi Dunia 2017-2018, Indonesia berada di posisi ke-36, yang sebelumnya pada posisi ke-41 dari 137 negara.“Namun jika dibandingkan dengan negara Malaysia, Singapura, dan Thailand, Indonesia masih tertinggal. Tahun ini dalam global competitiveness index, Thailand pada posisi ke-32, Malaysia posisi ke-23, dan Singapura pada posisi ke-tiga. Adapun penyebab Indonesia masih tertinggal dari negara lain dikarenakan kurangnya kualitas, pendidikan tinggi dan pelatihan, pengetahuan dan teknologi,sertainovasidan bisnis. Hal inilah yang harus diperbaiki agar daya saing Indonesia tidak kalah dari negara lain,” seperti yang dikatakan Nasir pada konferensi pers, Jakarta, Senin (29/1). Nasir mengatakan bahwa tujuan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi saat ini masih sesuai dengan era revolusi industri 4.0, sehingga perubahannya dilakukan hanya pada program berbasis layanan dengan pola penggunaan teknologi digital (online). Namun, kebijakan pada bidang pendidikan disesuaikan dengan keadaan di era revolusi Industri 4.0 Mohamad Nasir, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), membuat penilaian awal atas kesiapan negara untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Meskipun masih lebih rendah dari Singapura, pada tingkat Asia Tenggara posisi Indonesia sepenuhnya dihitung. Berkenaan dengan Indeks Daya Saing Global dari Forum Ekonomi Dunia 2017-2018, Indonesia berada di posisi ke-36, yang sebelumnya pada posisi ke-41 dari 137 negara.“Namun jika dibandingkan dengan negara Malaysia, Singapura, dan Thailand, Indonesia masih tertinggal. Tahun ini dalam global competitiveness index, Thailand pada posisi ke-32, Malaysia posisi ke-23, dan Singapura pada posisi ke-tiga. Adapun penyebab Indonesia masih tertinggal dari negara lain dikarenakan kurangnya kualitas, pendidikan tinggi dan pelatihan, pengetahuan dan teknologi,sertainovasi dan bisnis. Hal inilah yang harus diperbaiki agar daya saing Indonesia tidak kalah dari negara lain,”.
Era revolusi industri 4.0 akan membuat perubahan penting, salah satunya adalah sistem pendidikan Indonesia. Perubahan dalam sistem pendidikan tentu akan berdampak pada peran guru sebagai guru. Guru dituntut untuk sangat efisien dalam menghasilkan siswa yang mampu memenuhi tantangan revolusi industri. Dalam menghadapi tantangan besar, pendidikan juga harus diubah. Revolusi Industri 4.0 juga mempengaruhi Pendidikan yang disebut dengan Pendidikan 4.0, sehingga dapat dikatakan pendidikan 4.0 adalah pendidikan yang ditandai dengan penggunaan teknologi digital dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini mampu membuat proses pembelajaran dapat terjadi terus menerus tanpa batas ruang dan batas waktu. Dengan kata lain, untuk menghadapi tantangan sangat diperlukan pola pikir baru.
Implementasi strategi pembelajaran Inkuiri terhadap kemampuan berfikir kritis siswa dalam memahami pembelajaran IPA. Karena dapat diketahui dimana mutu dari peserta didik atau bahkan generasi millenial kurang unggu makadari itu harus di terapkannya strategi ini agar dapat mengembangkan serta melatih kemampuan dalam berfikir. Sehingga para peserta didik atau generasi millenial siap mengahadapi adanya Revolusi Industri 4.0. Strategi pembelajaran inkuiri salah satu strategi pembelajaran yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk menemukan sendiri pengetahuannya serta berperan aktif dalam pembelajaran, sehingga mampu memahami konsep dengan baik dan mengambangkan kemampuan berfikir kritis. Strategi ini yang melibatkan kegiatan belajar secara maksimal dengan seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan meneliti secara sistematis, kritis, logis, sehingga dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan maksimal.
Lawson (2000) menyatakan bahwa pembelajaran biologi pada sekolah menengah dengan kurikulum berbasis inkuiri dapat mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan penguasaan konsep. Setiawan (2005) menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada penguasaan konsep dengan peserta didik yang diterapkan strategi pembelajaran inkuiri di dalamnya. Strategi pembelajaran inkuiri memiliki keunggulan dibandingkan dengan strategi pembelajaran langsung karena strategi pembelajaran inkuiri lebih memacu pada keinginan peserta didik untuk mengetahui, memotivasi mereka untuk menemukan jawaban atas suatu masalah dan berfikir secara kritis serta mandiri. Manfaat dalam penerapat strategi pembelajaran inkuiri ini dapat memahami konsep-konsep lebih baik serta membantu dalam menggunakan daya ingat dan menerapkan pada situasi-situasi proses belajar.
Strategi pembelajaran inkuiri ini yang cocok untuk membantu siswa atau peserta didik dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Sehingga menghasilkan siswa yang mandiri dan selalu berfikir kritis akan sesuatu hal yang dihadapi dengan solusi atau jawaban terbaik serta rasa percaya diri. Hal tersebut akan adanya konsistensi dari siswa atau peserta didik, sehingga siswa dapat memunculkan ide kreatifnya dengan adanya perkembangan teknologi yang terjadi di Revolusi Industri 4.0. 

Komentar

Posting Komentar